Senin, 24 November 2008

Instant Generation

Paradigma "Instant Generation"

SEKILAS, kalimat instant generation jarang sekali terdengar dari kalangan masyarakat. Namun, kebanyakan orang apalagi bagi generasi muda saat ini sangatlah akrab dengan gaya hidup tersebut. Mereka cenderung berfikir dan bertindak secara instan tanpa mengenal adanya proses‑proses yang berawal dari nol. 'Cepat' serta 'mudah didapat' adalah dua kata kunci yang sering dicari oleh masyarakat kini. Tak dipungkiri tekhnologi dan makanan cepat saji merupakan hal yang digandrungi oleh masyarakat modern.
Di era globalisasi saat ini, paradigma tentang instant generation telah tertanamkan pada anak‑anak sejak dini. Mulai dari sekolah hingga ke lingkungan masyarakat telah banyak terpengaruh oleh paradigma tersebut. Khususnya di sekitar lingkungan sekolah, dengan berbagai kenikmatan yang ditawarkan untuk siswa‑siswi, mereka seharusnya lebih bisa memilih yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri.
"Saya tidak setuju. Menurut saya, dalam dunia pendidikan kita harus melewati beberapa tahapan dan proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan," ujar Pramono selaku Wakil Kepala SMA Stella Duce 1 Yogyakarta di bidang kesiswaan ketika ditanyai seputar pendapatnya mengenai proses secara instan tersebut.
Menurutnya, proses tersebut akan berdampak hilangnya proses‑proses yang akan mematangkan diri pribadi seseorang serta tidak mampu menghadapi berbagai situasi berat di masa mendatang.
Tidak jauh juga dari pandangan siswi‑siswi SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Rata‑rata, mereka sependapat dengan Bapak Pramono. Sebagai contoh pendapat Sheila yang mengatakan bahwa segala hal yang serba instan tidak selalu menguntungkan untuk ke depannya. Bagi dia, pilihan itu kembali pada pribadi masing‑masing.
Lain halnya dengan pendapat Benny, salah satu siswa SMA Kolese De Britto. Ia mengatakan bahwa selama proses instan membawa manfaat bagi penggunanya, "Ya itu sah‑sah saja bagi mereka. Tetapi kalau hal tersebut sudah menghilangkan proses‑proses dalam kehidupan maka tidak baik bagi individu tersebut."
Namun tidak selamanya proses instan tersebut selalu memiliki sisi negatif saja. Tetapi, di sisi lain juga dapat membawa dampak positif, seperti halnya yang dirasakan oleh salah satu siswi SMA Stella Duce 1 yang memiliki banyak kegiatan. "Sejujurnya, saya tidak begitu setuju dengan adanya instant generation yang sekarang lagi membomming di kalangan remaja. Walaupun seperti itu, saya tetap menjalankan gaya hidup instan karena keterbatasan waktu yang saya miliki," kata Vina, siswi yang sering memenangkan kontes vokal.
Kecenderungan kaum muda saat ini lebih memilih proses yang cepat dan lebih singkat daripada melalui berbagai proses yang seharusnya dijalankan untuk pencapaian sesuatu. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Contoh faktor eksternal seperti kegiatan‑kegiatan yang menyita banyak waktu dan acara‑acara yang tidak terlalu penting untuk dilakukan tetapi lebih dipilih untuk dilakukan. Selain itu, faktor internalnya antara lain, rasa malas, mudah putus asa dan terlalu menyepelekan sesuatu. Seperti biasanya, sebagai remaja masih banyak yang berfikir untuk memilih jalan tidak panjang yang melewati beberapa proses yang melelahkan.
Hal ini sering kita lihat baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Satu contoh kongkret yang terlihat jelas adalah mencontek saat pelajaran. Contoh ini sudah mendarah daging bagi kalangan muda. Siapa sih kalangan muda sekarang khususnya remaja yang tidak pernah menyontek? Dari hal kecil tersebut sudah tertanam benih‑benih pada generasi muda untuk menjalani hidup secara instan. Mungkin cara instan tersebut sangat menguntungkan bagi orang‑orang yang menerapkannya namun selanjutnya akan berdampak buruk yang akan dirasakan di kemudian hari.
Sekarang ini yang menjadi pedoman setiap orang adalah bagaimana mendapatkan atau memperoleh apa yang diinginkan tanpa harus melelahkan tubuh. Segala aktivitas yang dikerjakan semata‑mata hanyalah sebagai formalitas belaka. Mulai dari mengolah makanan hingga ke pemerintahan. Anak‑anak sekarang juga sudah terpengaruh dikarenakan kurangnya kasih sayang orang tua, pergaulan sampai perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Kemajuan teknologi adalah hal yang wajar dan merupakan suatu keharusan. Namun dalam kenyataannya, ada beberapa teknologi yang dapat menghilangkan nilai‑nilai kehidupan sehingga orang‑orang tidak bisa menghargai arti sebuah perjuangan. Ini semua mengakibatkan manusia lebih enggan untuk berfikir karena segala sesuatunya dapat diperoleh secara instan.
Akibatnya, hal‑hal tersebut membentuk generasi manja yang bermental "tempe" atau daya juang yang lemah. Orang‑orang cenderung lebih mudah putus asa dan tidak mau berusaha mencoba kembali jika menghadapi situasi yang berat. Mereka juga tidak bisa memaknai, mengerti dan menghargai arti berproses. Mereka lebih suka berkhayal dan bermimpi cepat sukses dan kaya. Daya kreatif dan inovatif dari masing‑masing individu ikut menurun.
Jika semua itu dibiarkan tumbuh dalam diri generasi muda maka tidak dipungkiri negara kita akan semakin terpuruk dengan masalah‑masalah yang akan timbul dan tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Korupsi yang merajalela di Indonesia terjadi dapat disebabkan oleh prinsip instan tersebut. Salah satu upaya yang dapat diberikan oleh sekolah menengah ke atas seperti SMA Stella Duce 1 Yogyakarta adalah kegiatan homestay. Di mana anak‑anak belajar dan mengerti proses dalam hidup. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan daya juang untuk menghadapi situasi dan kondisi seperti saat ini. Kemandirian juga dilatih dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan ini menuntut anak‑anak untuk dapat mengerti, memaknai dan menghayati arti sebuah proses agar terwujudnya generasi pembaharu yang memiliki kemampuan, baik kreasi maupun inovasi‑inovasi demi kemajuan Negara.

ತೆರಪಿ urine

Air Ampuh yang Cuma-cuma

Disampaikan oleh: Alvin Loka

Dr. Iwan T. Budiarso, pakar patologi dan parasitologi tamatan Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat, sungguh tak luput dari penyakit. Tahun 1979, ketika sedang mengikuti seminar patologi di Bali, untuk pertama kalinya ia mengalami serangan jantung. Sejak itu jantungnya kerap ngadat.

Tahun 1984, ia menjalani operasi bypass di Australia. Menurut dokter setempat, operasi ini bisa membuat jantungnya tahan hingga 10-15 tahun. "Nyatanya, baru dua tahun sudah kumat lagi," ujarnya dengan nada kocak.

Begitulah dengan berbagai upaya, ia bisa mengatasi beberapa kali serangan jantung. Namun jantungnya kian membengkak. "Jalan sedikit saja napas sudah sesak," ungkapnya. Mau dioperasi lagi, selain biaya yang aduhai, resikonya juga terlalu tinggi. Maka, sesuai saran tim medis yang menanganinya, Iwan terpaksa menghentikan segala kegiatannya.

Dosen patologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Jakarta, ini merasa sangat prihatin. "Kalau dulu saya bisa menolong orang, maka giliran saya yang harus ditolong orang," ungkapnya.

April 1999, salah seorang sejawatnya menyarankan agar meminum air seninya sendiri. Sebagai peneliti, Iwanpun mencari literatur-literatur tentang terapi auto urin (meminum air seni sendiri) sebagai dasar ilmiahnya.

Setelah membaca buku 'Water of Life, Treatise of Urine Therapy' karya John W. Armstrong bab 9 tentang pembengkakan jantung, Iwanpun langsung menenggak urinnya sendiri. Keinginannya untuk sembuh membuat ia begitu bersemangat melakukannya. "Saya meminumnya sampai lebih dari 1 liter sehari."

Keesokan harinya ia mendapati tekanan darahnya langsung normal. Iapun kian bersemangat mendalami ihwal terapi auto urin. Ia mengkontak pakar terapi urin di Yamanashi, Jepang, Dr. K. Sano, dan ilmuwan Belanda, C der Kroon, yang menulis buku 'The Golden Fountain: The Complete Guide to Urine Therapy'.

Iwan juga menghubungi panitia penyelenggara The Second World Conference on Urine Therapy di Jerman, Mei 1999, untuk memesan makalah para pakar terapi urin dari berbagai negara. Sesuai disiplin ilmu yang digelutinya, Iwan melakukan pengkajian terhadap bahan-bahan tersebut. Seiring waktu, Iwan sangat bersyukur karena kondisi jantungnya normal kembali - setelah tekun meminum air seninya sendiri selama setahun.

Khasiat air seni juga dialami Eleanor Lanny. Pertengahan Agustus 1997, dokter menemukan semacam balon yang berisi cairan di ovariumnya. Ternyata, ada sel kanker stadium 2C. Selama 3 bulan, pemandu wisata pada sebuah biro perjalanan ini menjalani chemotherapy.

Ternyata, sel-sel kanker tetap berkembang merajalela di rongga perutnya. Lanny mengalami konstipasi, sulit buang air besar karena ususnya terdesak. Dokter akan membuat lubang sementara di bagian perutnya untuk mengatasi hal itu.

April 1999, atas saran seorang kenalannya ia mulai meminum urinnya sendiri. Lalu ia membatalkan rencana operasinya yang ketiga. Selain meminum urin, ia juga mengkonsumsi kunyit putih dan daun tapak dara.

Hasilnya, perutnya yang semula buncit sudah kempes dan perasaan nyeri hilang sama sekali. Sesudah menjalani terapi air seni, ia gembira mendapati hasil tes darahnya. "Sel kanker dalam tubuh saya sudah menurun banyak."

Apa yang dilakukan Iwan dan Lanny menunjukkan bahwa air seni ternyata mujarab. Memang belum banyak orang Indonesia yang mau mencobanya kecuali bila kepepet karena sakit. Padahal bagi orang sehat, air seni bisa mencegah datangnya penyakit dan memberi efek kesegaran bagi tubuh.

Dalam seminar Urine Therapy yang berlangsung di Hotel Santika, Jakarta, Jumat (14/4/00), Iwan menyimpulkan, jangan memandang urin sebagai musuh. Tetapi, jadikanlah sebagai teman penyembuh. "Hanya dengan modal keberanian, kita bisa merasakan khasiatnya," tegasnya.

Masih Sedikit

Iwan memaparkan, sejarah terapi auto urin sebenarnya sudah ribuan tahun. Hal ini nampak dari Kitab Darma Tantra dari India yang terdiri dari 107 ayat - yang mengungkapkan khasiat air seni. "Kita akan dibersihkan dari segala racun dalam tubuh dan setelah lama kita juga dibersihkan secara rohani," begitu salah satu penggalan ayatnya. Di India, kebiasaan meminum urin (shivambu) sudah dilakukan sebagian penduduknya. Bahkan klinik-klinik terapi urin bermunculan di berbagai tempat, khususnya di Mumbay (Bombay). Salah seorang peminum setia urin adalah mantan Perdana Menteri India (1977-1979), Morarji Desai. Selama 36 tahun ia terus meminumnya.

Seperti di India, di Jepang juga terdapat beberapa klinik terapi urin. Dan Dr. S. Arai, peneliti terapi urin dan manajer Fujisaki Institute di Hayashibara Biochemical Laboratories telah membuktikan bahwa urin dapat menyembuhkan penyakit kronis seperti kanker dan hepatitis.

"Dewasa ini diperkirakan terdapat sekitar dua juta peminum auto urin di Jepang," ujar Iwan. Begitu pula di Cina, Taiwan dan Amerika Serikat, kebiasaan meminum air seni sudah memasyarakat. Bahkan di Jerman sekitar 5 juta orang sudah mempraktekkannya," tambah Iwan.

Di Indonesia terapi ini terbilang baru. Artikel-artikel mengenai hal ini relatif masih sedikit. Salah seorang yang mendalami soal urin untuk desertasinya adalah Prof. Dr. Kurnia Kusnawijaya, di Universitas Padjadjaran tahun 1980.

Sepuluh Hipotesa

Iwan mengungkapkan, urin mengandung mineral, vitamin, enzim, hormon, asam amino, antibodi, antigen, allergen, garam dan nutrien lainnya. Sejauh ini, lanjut Iwan, ada sepuluh hipotesa cara kerja terapi auto urin.

* Pertama, penyerapan dan penggunaan kembali nutrien.
* Kedua, penyerapan kembali hormon. Misalnya, kortikosteroid yang dapat mencegah infeksi, rematik dan asma. Atau, melationin sebagai obat penenang dan anti kanker.
* Ketiga, penyerapan kembali enzim.
* Keempat, penyerapan kembali urea. Urin mengandung 25-30 gram urea per hari.
* Kelima, memberi efek kekebalan.
* Keenam, memberi efek bakterisida dan virusida.
* Ketujuh, sebagai terapi garam yang berguna untuk memperlancar metabolisme, menyingkirkan kelebihan gula darah, dan mengeluarkan zat-zat toksik dari cairan dan jaringan tubuh.
* Kedelapan, memberi efek diuretika, yakni untuk menstimuler ginjal, meningkatkan produksi air seni, membersihkan ginjal serta 'mencuci' gula darah dan zat-zat toksik.
* Kesembilan, sebagai gambar hologram. Biofeedback-nya memberikan gambaran keadaan tubuh. Meminum urin akan mengoreksi dan memulihkan keseimbangan fisiologi tubuh yang terganggu penyakit.
* Dan, kesepuluh, memberi efek psikologis. Terapi ini dianggap sebagai penyembuhan dari dalam tubuh secara mekanistik dan holistik pada tingkat energi.

Tidak Mudah

Pada awalnya memang tidak mudah bagi siapapun meminum air seninya sendiri. Apalagi selama ini orang terlanjur menduga, air seni itu kotor dan merupakan buangan tubuh.

"Hanya dengan modal keberanian, kita bisa mencoba manfaat dan khasiat terapi urin," tegas Iwan. Karena rasanya yang cenderung tidak enak dan berbau, sebaiknya orang mencobanya satu-dua sendok per hari. Baru setelah terlatih, perlahan-lahan meningkatkan jumlah konsumsinya. Menurut Iwan, bagi yang merasa sulit menelannya, bisa mencampurnya dengan jus buah.

Rasa urin memang bisa berubah-ubah sesuai dengan apa yang kita makan setiap hari. Bila ingin air seni terasa tawar, disarankan untuk memperbanyak makan sayur dan buah. "Bila mengkonsumsi daging, urin akan terasa lebih asin, asam, bahkan pahit." Iwan mengakui, selain efek menyembuhkan, terkadang terapi auto urin memberi efek lain, yakni recovery reaction atau detoxification period. Yakni, reaksi dari dalam tubuh bila akan sembuh. Gejalanya bermacam-macam. Misalnya, diare, batuk, pusing-pusing, berjerawat, dll.

Bila terjadi hal demikian, Iwan menyarankan untuk berhenti selama seminggu. Kemudian mulai meminumnya lagi dengan dosis meningkat dari yang paling kecil. Apapun rasanya, urin adalah penyembuh cuma-cuma. Cocok digunakan pada situasi sulit seperti sekarang ini untuk macam-macam penyakit. Bahkan John W. Armstrong menyebutnya sebagai air kehidupan -- seperti tertera dalam Amsal 5:15, "Minumlah air dari kulahmu sendiri. Minumlah air dari sumurmu yang membual."

Diminum Sampai Dilulur

Anda berminat mengkonsumsi urin sendiri? Silakan menadahinya dalam mangkuk atau gelas tertentu. Yang penting, buanglah tetesan-tetesan awal dan akhir. Ambil antaranya saja. Cara memakainya bisa dengan langsung diminum, dikumur, diteteskan (untuk mata, hidung dan telinga), direndam, dikompres atau dilulur, dan juga disuntikkan.

Bentuknya bisa berupa air seni segar atau berupa ekstrak (melalui proses). Sedangkan dosis yang dianjurkan berbeda-beda.

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, minimal sehari satu kali meminum satu gelas (250 cc) urin pertama pagi hari sebelum makan pagi. Untuk pengibatan penyakit, minimal sehari meminum 3 gelas urin sebelum makan. Sedangkan untuk pengobatan kanker dan penyakit-penyakit kronis lainnya, minimal sehari meminum lima gelas urin - juga sebelum makan. Bagi yang menderita penyakit tertentu, sambil meminum urin, juga tetap meminum obat-obat dari dokter. Jika gejala penyakit sudah stabil, dosis obat tersebut boleh dikurangi sepertiga.

Setiap dua atau tiga minggu disarankan tetap cek ke dokter atau ke lab. Jika gejala penyakit stabil, obat bisa dikurangi hingga sepertiga dosis. Pada minggu ke-7 atau ke-9, penderita penyakit bisa bebas - tidak perlu meminum obat dokter. Hanya meminum urin saja.

(Maria Etty/ Alvin Loka/ IM)

Minggu, 23 November 2008

Anemia

Anemia Defisiensi Besi pada Anak Sekolah

Mendengar kata anemia, biasanya orang langsung teringat pada penyakit yang di kalangan masyarakat umum populer dengan sebutan kurang darah. PENYAKIT anemia muncul akibat penurunan jumlah dan mutu sel darah merah yang antara lain berfungsi sebagai sarana transportasi zat gizi serta oksigen untuk proses fisiologis dan biokimia jaringan tubuh.

Terkena anemia berarti pasokan oksigen dan zat-zat gizi ke seluruh tubuh berkurang sehingga menimbulkan dampak fisiologis dan psikologis.

Gejalanya dikenal sebagai 4 L, yakni letih, lemah, lesu, dan loyo. Di samping itu, muka pucat, kehilangan selera makan, sering pusing, sulit ber-konsentrasi, serta mudah terserang penyakit.

Ada dua tipe anemia, yaitu anemia gizi dan nongizi. Anemia gizi disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan dan produksi sel-sel darah merah.

Penyebab anemia nongizi adalah pendarahan, misalnya luka karena kecelakaan, menstruasi, atau penyakit darah yang bersifat menurun, contohnya lain thalasemia dan hemofilia.

Anemia gizi dibagi menjadi beberapa jenis. Pertama, anemia gizi besi karena kekurangan pasokan zat gizi besi (Fe) yang merupakan inti molekul hemoglobin sebagai unsur utama sel darah merah.

Akibat anemia gizi besi terjadi pengecilan ukuran hemoglobin, kandungan hemoglobin rendah, serta pengurangan jumlah sel darah merah.

Kedua, anemia gizi vitamin E yang mengakibatkan integritas dinding sel darah merah lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis atau sel darah merah pecah.

Ketiga, anemia gizi asam folat atau anemia megaloblastik dan makrositik. Keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit, dan belum matang.

Keempat, anemia gizi vitamin B12 atau pernicious. Keadaan dan ge-jalanya mirip anemia gizi asam folat, namun disertai gangguan pada sistem alat pencernaan bagian dalam.

Kelima, anemia gizi vitamin B6 atau disebut siderotic. Keadaannya mirip anemia gizi besi, namun jika darahnya dites secara laboratoris serum besinya normal.

Keenam, anemia pica. Penderitanya memiliki selera makan tidak lazim, contohnya makan tanah, kotoran, adonan semen, serpihan cat, atau minum minyak tanah.

Di Indonesia anemia gizi masih menjadi masalah gizi utama. Data hasil penelitian menunjukkan preva-lensi anemia gizi besi masih tinggi (Kodiyat, 1995).

Pada ibu hamil prevalensinya mencapai 63,5%, balita 55,5%, anak usia sekolah 20%-40%, wanita dewasa (30%-40%), pekerja berpenghasilan rendah 30%-40%, dan pria dewasa 20%-30%.

Penelitian lain oleh Pusponegoro menyebutkan anemia ditemukan pada 40,5% balita, 47,2% usia sekolah, 57,1% remaja putri, dan 50,9% ibu hamil.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pernah meneliti 1.000 anak sekolah di 11 provinsi dan hasilnya menunjukkan 20%-25% terkena anemia.

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menyebutkan prevalensi anemia pada anak 0-5 tahun 47%, anak usia sekolah dan remaja 26,5%, dan wanita usia subur 40%.

Sementara itu survei yang dilakukan khusus di DKI Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan angka prevalensi anemia pada anak balita 26,5% dan ibu hamil 43,5%.

Tahun 2001-2003 ada 2 juta ibu hamil menderita anemia gizi; 350 ribu berat bayi lahir rendah/tahun; 5 juta balita gizi kurang; serta 8,1 juta anak, 3,5 juta remaja, dan wanita usia subur menderita anemia gizi besi.

Berbagai kajian ilmiah menyimpulkan penderita gizi buruk juga menderita kekurangan zat besi yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Melihat beberapa hasil survei dan penelitian itu tampak jelas anemia, terutama anemia defisiensi besi masih menjadi persoalan serius pada anak-anak, ibu hamil, dan wanita pada umumnya.

Zat besi (Fe) adalah salah satu mikronutrien penting. Kekurangan zat besi pada ibu hamil, bayi, dan anak menyebabkan gangguan saraf.

Besi penting untuk membentuk mielin, aktivitas sel saraf, membantu berbagai enzim, dan pembentukan neurotransmiter atau semacam bahan kimia di otak.

Defisiensi besi menyebabkan gangguan pembentukan mielin. Anak yang mengalami gangguan itu menunjukkan keterlambatan motorik, pendengaran, penglihatan.

Mudah Stres

Sistem saraf otonom juga terganggu sehingga anak lebih mudah stres. Kekurangan neurotransmiter menyebabkan anak menjadi hiperaktif, kemampuan belajar turun, dan perkembangan terlambat.

Anak yang pernah mengalami defisiensi besi menunjukkan skor motorik, IQ verbal, dan IQ keseluruhan lebih rendah pada umur 11-14 tahun.

Bahkan bayi yang lahir dengan cadangan besi kurang menyebabkan fungsi mental dan psikomotorik yang kurang pada umur 5 tahun. Anemia pada ibu hamil dan balita perlu mendapat perhatian khusus, karena kedua kelompok tersebut merupakan ke-lompok yang memiliki masa emas sekaligus masa kritis.

Ibu hamil sangat memerlukan mineral, protein, dan asam folat. Balita yang memiliki masa tumbuh optimal termasuk otaknya juga sangat membutuhkan asupan itu .

Jika seorang ibu hamil dan balita kekurangan mineral (khususnya besi), protein, serta asam folat, bayinya dan anak itu berisiko mengalami kerusakan otak permanen.

Kerusakan otak permanen akan berakibat buruk pada proses perkembangan otaknya. Saat memasuki sekolah kecerdasan anak tersebut kurang.

Kerusakan sel otak permanen lebih berbahaya dari kerusakan sel-sel kulit. Sekali sel-sel otak rusak tidak mung-kin dikembalikan sebagaimana semula.

Berbeda dari kasus busung lapar. Kendati kulit keriput dan perut membuncit, dapat diatasi sehingga bisa pulih seperti sediakala.

Namun balita yang mengalami kerusakan otak permanen sulit diatasi. Dari situ dikhawatirkan terjadi lost generation atau generasi yang hilang akibat kecerdasannya kurang.

Pertumbuhan otak yang cepat adalah mulai janin dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Pada masa yang disebut masa emas itu pertumbuhan sel-sel otaknya mencapai 80%.

Sehubungan dengan itu kecukupan gizi zat besi harus mulai diperhatikan sejak anak-anak dalam kandungan ibunya.

Kebutuhan zat besi pada anak-anak rata-rata 5 mg/hari. Jumlah tersebut akan bertambah hingga 10 mg/hari jika mereka terkena infeksi.

Anemia defisiensi zat besi bisa terjadi pada anak yang menderita malnutrisi energi protein serta sindrom malabsorpsi lainnya.

Pada anemia gizi besi juga ditemukan ada hubungan timbal balik kecukupan asupan zat gizi, terutama besi dan protein dengan infeksi penyakit cacingan.

Sumber zat besi bisa diperoleh dari daging, hati, telur, susu, kacang tanah, kentang, buah, serta sayuran yang mengandung klorofil atau hijau daun.

Salah satu fokus penanganan anemia defisiensi besi adalah anak-anak usia sekolah karena berdasarkan penelitian hampir 50% di antara mereka terkena penyakit itu.

Kenyataan itu bisa dipahami karena orang tua sering abai terhadap kecukupan gizi anaknya. Pemahaman atas kebutuhan zat-zat gizi secara keseluruhan agak kurang.

Apalagi makanan yang diberikan sekarang cenderung kaya lemak dan karbohidrat, tetapi miskin mineral dan vitamin. Padahal kebutuhannya tidak terlalu besar.

Mungkin saja terjadi si anak gemuk tetapi tampak pucat, loyo, dan kurang lincah karena ternyata ia kekurangan zat besi.

Jika itu yang terjadi, bisa dibayangkan anak itu tidak akan bergairah mengikuti pelajaran sehingga berakibat prestasi belajarnya tidak memuaskan.

Apa yang akan terjadi kalau separo anak sekolah mengalami keadaan seperti itu? Masa depan bangsalah taruhannya karena mereka merupakan generasi penerus.

Sehubungan dengan itu ada beberapa upaya yang perlu ditempuh oleh pemerintah bersama-sama masyarakat yang didukung oleh swasta.

Pertama, terus menyosialisasikan masalah kecukupan dan kebutuhan gizi kepada masyarakat sehingga mereka sadar gizi.

Artinya, memiliki pengetahuan dan pemahaman bahwa makan tidak sekadar kenyang atau mewah, melainkan harus terpenuhi seluruh zat yang dibutuhkan tubuh.

Kedua, program makanan tambahan bagi anak sekolah perlu dilanjutkan dan dikembangkan, khususnya di kawasan-kawasan masyarakat miskin.

Untuk itu dibutuhkan dukungan swasta dalam hal pendanaan di samping instansi terkait, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta masyarakat sendiri.

Ketiga, dalam jangka pendek bagi anak sekolah yang sudah terkena anemia defisiensi besi bisa diberi suplemen zat besi baik berupa tablet maupun cairan.

Anak-anak yang mengalami anemia defisiensi besi karena cacingan butuh penanganan medis untuk mengatasi dan memberantas cacingnya.

Keempat, dalam jangka panjang penanggulangan anemia gizi diarah-kan melalui peningkatan pola hidup sehat dan bersih, serta norma keluarga sadar gizi.

Bagaimanapun mencegah lebih murah daripada mengobati, sehingga penekanan pada upaya mengonsumsi makanan bergizi cukup dan lengkap sangat dianjurkan.