Kamis, 11 Desember 2008

Kolesterol

Kolesterol
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Steroid adalah salah satu senyawa organik bahan alam yang dihasilkan oleh organisme melalul metabolisme sekunder, senyawa ini banyak ditemukan pada jaringan hewan dan tumbuhan. Asal usul biogenetik dari steroid mengikuti reaksi-reaksi pokok yang sama dengan demikian maka golongan senyawa ini memiliki kerangka dasar yang sama. Namun demikian kajian mengenai aspek stereokimia dan konformasi molekul steroid serta hubungannya dengan aktifitas biologi dan reaksi steroid, merupakan kajian yang memiliki aspek yang sangat luas dan menarik.
Steroid alami berasal dari berbagai transmormasi kimia dua terpena asal, yaitu lanosterol dan sikloartenol. Pada umumnya steroid hewan berasal dari lanosterol, sedang steroid tumbuhan berasal dari sikloartemol. Senyawa turunan steroid memiliki fungsi yang sangat penting dalam kelangsungan hidup organisme. Berbagai jenis hormon, asam empedu dan berbagai macam senyawa anabolik adalah turunan steroid. Keanekaragaman turunan steroid dihasilkan melalui transformasi struktur dan gugus fungsi steroid berdasarkan reaksi-reaksi sekunder mengikuti keteraturan biogenetik.
Salah satunya adalah kolesterol yang merupakan steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dijumpai dalam hampir semua jaringan hewan. Kolesterol secara umum merupakan komponen structural membrane sel (mengatur kekuatan membrane sel), komponen lipoprotein plasma, komponen bahan dasar pembentukan asam empedu, dan komponen bahan dasar hormone steroid.
Adapun hal yang melatar belakangi pada makalah ini adalah untuk mengetahui kerangka dasar kolesterol yang merupakan ciri khusus dari steroid, mengetahui metabolisme kolesterol dalam tubuh dan kaitan kolesterol darah dengan penyakit jantung koroner dan aterosklerosis serta membahas kasus klinik (Hiperkolesterolemia) selain itu juga sebagai tugas individu dari mata kuliah dari Kimia Organik Bahan Alam (KOBA).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
? Untuk mengetahui metabolisme kolesterol dalam tubuh
? Untuk mengetahui hubungan antara kolesterol, jantung koroner, dan aterosklerosis
? Untuk membahas salah satu kasus klinik yang berkaitan dengan kolesterol (Hiperkolesterolemia)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sejak lama orang telah mengetahui bahwa batu empedu terdiri sebagian besar alkohol yang berwujud kristal putih yang disebut kolesterol, berasal dari bahasa Yunani Chole "empedu" dan stereos "padat. Penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa kolesterol mempunyai rumus molekul C27H46O dan mengandung sebuah ikatan rangkap. Struktur kolesterol sesungguhnya ditentukan berdasarkan reaksi dehidrogenasi oleh selenium yang menghasilkan hidrokarbon Diels dan berdasarkan hasil analisis sinar X selanjutnya kolesterol telah disintesis pada tahun 1952 sebagai hasil karya Woodward dari Amerika Serikat dan pada tahun 1953 oleh Robinson dad Inggeris.

Molekul kosleterol terdiri atas tiga lingkar enam tersusun seperti dalarn fenantren dan terlebur dalam suatu lingkar lima, Hidrokarbon tetrasiklik jenuh, yang mempunyai sistem lingkar lima, hidrokarbon tetrasiklik jenuh, yang mempunyai sistem lingkar demikian dan terdiri atas 17 atom karbon, disebut 1,2 siklopentenoperhidrofenantren, kerangka ini sekalius merupakan ciri khusus yang membedakan steroid dengan senyawa organik bahan alam lainnya.
Kolesterol merupakan steroida penting, bukan saja karena merupakan komponen membran tetapi juga karena merupakan pelopor biosintetik umum untuk steroid lain termasuk hormon steroida dan garam empedu. Kolesterol berlimpah dalam otak dan jaringan saraf lainnya, dengan mencerminkan pentingnya fungsi membran di dalam janingan-jaringan ini. Sebagai lipida membran kolesterol terdapat di dalam membran sel organisme tingkat tinggi, tetapi tidak terdapat di dalam membrane - membran bakteri dan mitokondria.
Pada manusia kolesterol diperoleh secara langsung dari makanan dan juga dibiosintesis dari asetat melalui skualena di dalam limpa. Jumlah seluruh kolesterol dalam darah tergantung pada sebagian besar makanan, umur, kelamin. Nilai normal adalah kira – kira 1,7 gram per liter darah, tetapi pada orang tua dapat naik sampai 2,5 g/liter atau lebih. Penyakit – penyakit kardiovaskular tertentu seperti aterosklerosis atau pengerasan dari urat – urat nadi sebagian telah dianggap sebagi akibat dari tingkat kolesterol yang tinggi.
Kolesterol dan derivatnva. tidak larut dalam air tetapi larut dalam minvak dan alkohol, sehingga dimasukkan dalam golongan lipid (lemak.). Kolesterol dalam tubuh manusia sumbernya 2 yaitu berasal dari diet makanan asal hewan yang mengandung kolesterol dan juga disintesis oleh liver dari Asetil KoA (Asetil KoA berasal dari penguraian karbohidrat dan lemak). Biasanya tingkat kedua zat ini dalam plasma darah sangat rendah. Konsentrasi lebih tinggi daripada normal zat – zat tersebut berakibat eksresi keton bodies dalam urine. Kehadiran Aseton atau ? - hidroksibutirat di dalam urine sesuai dengan beberapa kemungkinan abnormalitas metabolik yang diutarakan pada metabolisme kolesterol.

Asetil KoA + Asetoasetat 3HMG KoA Mevalonat { isoprene } squalene kolesterol

Gambar : berbagai tambahan asetil CoA

Kolesterol Diet
Makanan yang berasal dari tumbuh - tumbuhan juga mengandung sterol (phytosterol misalnva beta-sitosterol yang banyak terdapat di minyak kelapa dapat menghambat penyerapan kolesterol oleh usus. Usus kecil (jejunum) tubuh manusia mudah sekali mengabsorpsi kolesterol dari makanan yang berasal dari hewan (daging, telur, hasil laut dan lemak). Kolesterol yang berasal dari makanan jarang dalam bentuk kolesterol bebas, biasanya berbentuk (Kolesterol + asam lemak) atau sering disebut ester kolesterol ditambah trigliserit.

Ester Kolesterol
Ester kolesterol dan trigliserid di dalam usus diemulsikan oleh asam, empedu mernbentuk misel - misel yarig lebih larut air untuk mempermudah penyerapan oleh usus. Kemudian kolesterol dalam misel diuraikan oleh enzim esterse pankreas menjadi kolesterol bebas dan asam lemak, kemudian masuk ke dalam mukosa usus dengan cara difusi. Setelah masuk dalam usus kemudian diesterifikan kembali menjadi ester kolesterol. Ester kolesterol yane terbentuk dalam mukosa usus kemudian bergabung dengan dengan sisa kolesterol bebas, trigliserid dan lippopotein sehingga, membentuk kilomikron yang kemudian masuk ke dalam pembuluh darah limfa yang dilanjutkan ke ductus torasikus lalu masuk dalam sirkulasi plasma darah.
Dalam sirkulasi darah kilomikron dihidrolisis (diuraikan) oleh enzim lipoproteinlipase yang disekresikan oleh sel-sel dinding pembuluh darah. kemudian trigliseridnya diambil oleh sel – sel pembuluh darah untuk bahan bakar, sisa kilomikron yang kaya kolesterol kemudian diangkut ke dalam hati untuk dipakat mensintesis asam empedu dan, hormone.
Sernua kolesterol dan trigliserid yang berasal dari ( sisa kilomikron + disinteis oleh liver), apabila melebihi kebutuhan liver maka akan diangkut dari liver ke dalam darah dalam bentuk Very Low Density Lipoprotein (VLDL). Nasib VLDL sama seperti kilomikron, selama dalam sirkulasi darah akan dihidrolisis oleh enzim lipoproteinlipase yang terdapat di sel-sel endotelium dinding pembuluh darah, kemudian trigliseridnya diambil oleh sel endothelium sebagai bahan bakar, sisa yang kaya kolesterol disebut Intermidiate Density Lipoprotein (IDL). IDL ini separuhnya masuk kembali ke dalam liver dan separuhnva lagi diubah mejadi Low Density Lipoprotein ( LDL, ) yang melanjutkan tugasnya mengangkut kolesterol dan membagikan ke seluruh sel-sel tubuh untuk membentuk dindirig sel yang baru.
HDL, (High Density Lipoprotein) tugasnya mengambil kotesterol bebas dalam plasma yang dilepaskan o1ch sel-sel vang mati, kemudian enzim asiltransferase BDL akan menakatalisis esterifikasi (kolesterol + asam lemak linoleat) menjadi ester kolesterol. Kemudian Ester kolesterol ini akan dipindahkan dari HDL ke VLDL atau LDL. Semua sel-sel tubuh (Sel liver, set otot, set adipose, set saraf, set darah, set otak d1l) mengambil kolesterol dari LDL plasma. LDL peranannya adalah sebagai alat pengangkut kolesterol yang dibutuhkan oleh semua sel - sel tubuh, atau dengan kata lain LDL adalah sumber utituk perolehan kolesterol

CARA SEL - SEL TUBUH MENGAMBIL KOLESTEROL DARI LDL
Pada permukaan molekul LDL terdapat protein yang disebut Apolipoprotein B- 100 dan Apolipoprotein E. Hampir semua sel - sel tubuh memiliki reseptor. Sel liver memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein E Yang terdapat dipermukaan LDL. Sel - sel yang lain (selain sel liver) memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein B-100 yang terdapat dipermukaan LDL. Ikatan antara reseptor sel dan Apolipoprotein LDL akan membentuk suatu kompleks ( LDL + Reseptor sel ) yang kernudian akan masuk ke dalam sel (internalisasi) dengan cara endositosis, yaitu membran plasma sel akan melekuk ke dalam sehingga kompleks (LDL + Reseptor sel) ini akan masuk kernudian menyatu membentuk suatu vesikel endositik.
Vesikel - vesilkel yang mengandung LDL ini kemudian akan berfusi (menyatu) dengan lisosom (yang mengangkut bermacan - macam enzim pencernaan). Kompleks (LDL + reseptor) ini akan diurai oleh enzim - enzim pencernaan yang terdapat dalam lisosom ini, antara lain :
? Protein LDL akan diurai menjadi asam arnino bebas
? Ester kolesterol akan diurai nenjadi kolestrol bebas dan asam lemak linoleat
Reseptor sel biasanya utuh kembali ke membrane plasma sel. Waktu perputaran (turn over) reseptor sel adalah kira-kira 10 menit, sehingga dalam 1 hari reseptor sel ini akan membawa 144 partikel LDL ke dalam sel. Kolesterol bebas kemudian dipakai untuk sintesis membrane sel sebagian juga mengalami esterifikasi dengan asam lemak oleat atau palmitoleat (asarn lemak tak jenuh tunggal) untuk disimpan di dalam sel. Asam lemak ester kolesterol di LDL biasanya adalah linoleat (asam lemak tak jenuh ganda)

CARA TUBUH MEMBUANG KOLESTEROL
Jaringan mamalia tidak memiliki enzim vang mampu mengkatabolis inti kolesterol, sehingga kolesterol tidak dapat dirusak oleh oksidasi menjadi karbon dioksida dan air. Oleh sebab itu kolesterol hanya dapat dibuang dari tubuh melaui sintesis asam ernpedu yang banyak, karena sebagian besar bahan dasar asam empedu adalah kolesterol. Untuk mensintesis asam empedu yang banyak, berarti asam empedu yang terdapat di kantong, empedu harus dikosongkan terus - menerus, yakni dibuang melalui tinja.

HIPERKOLESTEROLEMLA (MENINGKATNYA KADAR LDL PLASMA) MENURUT VERSI KEDOKTERAN & FARMAKOLOGI
Berkurangnya reseptor sel liver terhadap LDL atau defisiensi reseptor LDL yang berfungsi baik, sehingga berkurangnya masukkan IDL & LDL ke dalam liver. dan terjadi peningkatan LDL dan IDL dalam plasma darah yang menyebabkan penumpukkan kolesterol pada berbagai jaringan. Oleh sebab itu obat vang dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol olch kalangan dokter adalah :
? Derivat Statin (lovastatin), suatu inhibitor kompetitif HMG KoA reduktase yang kuat cara kerjanya menghambat 3HMG KoA menjadi Mevalonat, sehingga dapat menghambat sintesis kolesterol di liver., kemudian mengakibatkan peningkatkatan jumlah reseptor LDL di sel hati
? Resin pengikat asam empedu

HIPERKOLESTEROLEMIA (MENINGKA'I'NYA KADAR LDL PLASMA) MENURUT VERSI HUKUM ALAM
Jalur pembuangan kolesterol dari tubuh vang paling banyak adalah melalui pengosongan kantung empedu, sehingga kolesterol dapat diambil terus dari LDL plasma untuk memproduksi asam empedu. Empedu diperlukan untuk mencerna makanan yang berminyak, jadi untuk merangsang kantong empedu mengosongkan asam empedu adalah merangsang dengan makanan yang berminyak. Supaya asam empedu mudah keluar dari kantung empedu, maka saluran empedu harus terbuka lebar. Untuk melebarkan saluran empedu maka otot saluran empedu harus lemas (vasodilasi). Untuk melemaskan otot saluran empedu. maka harus mendinginkan saluran pencernaan. Saluran pencernaan dingin maka konteraksi otot usus akan berkurang, sehingga asam empedu yang sudah keluar dari kantung empedu tidak diambil kembali oleh usus. sehingga liver harus mensintesis asam empedu yang baru dari kolesterol.

BAB III
PEMBAHASAN

Metabolisme kolesterol
Kolesterol diserap dari usus dan menjadi satu dengan kilomikron yang:dibentuk dalam mukosa. Setelah kilomikron melepaskan trigliserida dalam jaringan adiposa, sisa kilomikron akan membawa kolesterol ke hati. Hati juga membentuk kolesterol. sebagian kolesterol hati diekskresikan dalam empedu, baik dalam bentuk bebas maupun sebagai asam empedu. Sisa kolesterol akan menjadi satu dengan VLDL. Biosintesis kolesterol dari asetat dapat dilihat pada gambar 1. Kolesterol mengadakan umpan balik untuk menghambat pembentukannya sendiri, yaitu dengan menghambat enzim yang mengkonversi ? - hidroksi ? - metilglutaril-KoA menjadi asam mevalonat. Jadi bila intake kolesterol dalam makanan tinggi, sintesis kolesterol dalarn makanan tinggi, sintesis kolesterol hati menurun dan sebaliknya. Akan tetapi, pengaruh umpan balik ini tidaklah tetap, dan diit rendah kolesterol akan sedikit menurunkan kolesterol darah.

Gambar 1 : Biosintesis kolesterol, enam molekul asam mevalonat berkondensasi membentuk squalen, yang kemudian mengalami hiroksilasi dan berubah menjadi kolesterol. Panah dengan garis putus – putus menunjukkan umpan balik yang mmenghambat pembentukan asam mevalonat oleh kolesterol.

Kebanyakan sel dalam tubuh dapat mensintesis kolesterol, walaupun sebagian besar kolesterol disintesis dalam hati. VLDL Yang mengandung kolesterol yang dibentuk dalam hati dimetabolisme menjadi IDL dan LDL. LDL kemudian masuk ke dalam sel jaringan ekstrahepatik dengan cara endositosis dan menyediakan kolesterol bagi sel-sel ini yang penting agar berfungsi normal. Sebagian LDL juga masuk scavengercell. Proses yang menyangkut uptake dan metabolisme intrasell dalam sel parenkim ekstrahepatik dalam gambar 2. Molekul-molekul LDL berikatan dengan reseptor-reseptor pada membran sel, interaksi ini memicu endositosis LDL. Vesikel - vesikel yang mengandung LDL bergabung dengan lisosom, dan enzim-enzim lisosom menghidrolisis ester-ester kolesterol yang terdapat pada inti LDL. Kolesterol bebas yang terbentuk masuk sitoplasma, di mana ia sebagian dirubah kemdian ester-ester kolesterol dalam alat Golgi, dan berdifusi ke dalam membran sel. Dari membran sel diambil oleh HDL. Dalam plasma kolesterol tersebut diubah menjadi ester- ester kolesterol dan bergerak ke inti HDL, meninggalkan permukaan lipoprotein bebas untuk menerima lebih banyak kolesterol. HDL mentransport kolesterol kembali kehati. Sebagian kolesterol ini bersiklus kembali ke dalam VLDL, tetapi sebagian besar tampak masuk kedalm empedu dan dieksresi dalam feses.

Gambar 2 : Uptake, metabolisme, dan pembuangan kolesterol seluler. Panah padat menyatakan perangsangan, panah terputus – putus penghambatan, R, reseptor LDL; L, lisosom; CE, ester kolesterol C, kolesterol bebas; HMG, ? - hidroksi ? - metal glutaril – KoA; AA, asam amino.

Kolesterol yang masuk sitoplasma sel juga menghambat sintesis reseptor LDL dan biosintesis kolesterol baru dari perkursornya dapat dilihat pada gambar 2. Efek ini, ditambah pembuangan kolesterol yang berlebihan dari sel ole HDL, memberikan dasar umpan – balik untuk mempertahankan kolesterol intrasel pada tingkat yang konstan.

Faktor - faktor yang mempengaruhi kolesterol plasma
Kadar kolesterol dalam plasma diturunkan oleh hormon tiroid dean estrogen. Akan meningkat bila aliran empedu tersumbat, juga pada hiperkolesterolemi herditer, dan diabetes mellitus yang tidak diobati.
Diit yang banyak mengandung lemak netral meningkatkan kolesterol plasma, memperpendek masa pembekuan dan menurunkan aktivitas firinolitik, Bila lemak jenuh dalam makanan diganti dengan lemak - lemak tidak jenuh, kolesterol darah akan menurun dan pengaruhnya terhadap mekanisme pembekuan adalah sebaliknya. Sebagaimana ditekankan di atas, dengan mengurangi intake kolesterol, akan menurunkan kolesterol plasma pada manusia.

Kolesterol, Penyakit jantung koroner, & ateroskierosis
Banyak penyelidik telah menunjukkan korelasi antara kadar lipid serum yang meninggi dengan insiden penyakit jantung koroner dan aterosklerosis pads manusia. Dari lipid - lipid serum, kolesterol adalah yang paling sering dikhususkan penting dalam hubungan ini. Akan tetapi parameter-parameter lain seperti ratio kolesterol: fosfolipid, konsentrasi lipoprotein 12-400 Sf, konsentrasi triasilgliserol serum, dan seterusnya memperlihatkan korelasi serupa. Pasien dengan penyakit arterial dapat memiliki salah satu dari abnormalitas berikut: (1) Konsentrasi VLDL (terutama triasilgliserol) yang meninggi dengan konsentrasi normal LDL (D= 1,019 - 1, 0,63) yang mengandung terutama kolesterol; (2) LDL (kolesterol) meninggi dengan VLDL (triasilgliserol) normal: (3) peninggian ke dua fraksi lipoprotein (kolesterol + triasilgliserol). Juga terdapat hubungan terbalik antara konsentrasi HDL (HDL2) dengan penyakit jantung koroner, dan beberapa orang menganggap bahwa hubungan yang paling prediktif (dapat diramalkan) adalah ratio kolesterol LDL/HDL. Kaitan ini dapat diterangkan dengan cara peranan yang dikemukan tentang LDL dalam mengangkut kolesterol ke jaringan dan peranan HDL yang bekerja sebagai "pemakan" (scavenger) kolesterol.
Aterosklerosis ditandai oleh penumpukan (deposisi) ester kolesteril dan lipid lain dalam jaringan penyambung dinding arteri. Penyakit-penyakit di mana kadar yang meninggi dalam jangka lama dari low- density, lipoprotein dan very low density lipoprotein terjadi dalam darah (misainya, diabetes melitus, lipid nefrosis, hipotiroidisme, dan keadaan hiperlipidemia lain) sering disertai oleh aterosklerosis prematur atau lebIh berat.
Percobaan induksi aterosklerosis pada hewan menujukkan adanya variasi spesies yang luas dalam kerentanannya. Kelinci, babi, monyet, dan manusia adalah spesies di mana aterositlerosis dapat diinduksi dengan pemberian makan kolesterol. Tikus, anjing, dan kucing tahan (resisten). Tiroidektomi atau pengobatan dengan obat-obat tiourasil akan memudahkan induksi ateroaklerosis pada anjing dan tikus. Kolesterol darah yang rendah adalsh ciri khas hipertiroidisme. Penurunan kadar kolesterol plasma dapat disebabkan peningkatan kecepatan pergantian (turnover) dan ekskresi.
Dari faktor-faktor yang menurunkan kolesterol darah, penggunaan asam lemak "polyunsaturated" dalam diet sebagai pengganti asam lemak jenuh, telah diselidiki paling intensif. Minyak yang terdapat di alam yang bermanfaat dalam menurunkan kolesterol plasma termasuk kacang, bji kapas, jagung, dan minyak kedelai sedangkan minyak mentega dan minyak kelapa menaikkan kadar. Proporsi asam linolenat yang tinggi dalam golongan minyak pertama dan kekurangan relatif atau tidak adanya masing-masing pada mentega dan minyak kelapa. Sukrosa dan fruktosa mempunyai pengaruh lebih besar dalam menaikkan lipid darah dibandingkan karbohidrat lain. Korelasi antara konsumsi sukrosa yang meningkat dengan aterosklerosis telah diklaim.
Alasan untuk efek menurunkan kolesterol dan asam lemak "polyunsaturated" masih belum jelas. Akan tetapi beberapa hipotesis telah diajukan untuk menerangkan efek ini, termasuk stimulasi ekakresi kolesterol ke dalam usus dan perangsangan oksidasi kolesterol menjadi asam empedu. Adalah mungkin bahwa ester kolesteril dari asam lemak polyunsaturated dimetabolisme lebih cepat oleh hati dan jaringan lain, yang dapat menambah kecepatan pergantian dan ekskresinya. Terdapat bukti lain bahwa efek ini sebagian besar disebabkan pergeseran dalam distribusi kolesterol dari plasma ke dalam. jaringan yang disebabkan kecepatan katabolisme LDL yang meningkat. Asam lemak jenuh menyebabkan pembeniukan partikel VLDL yang lebih kecil yang mengandung relatif lebih banyak kolesterol, dan partikel-partikel ini diutilisasi oleh jaringan ekstrahepatik lebili lambat daripada partikel-partikel yank lebih besar. Semua kecendrungan ini dapat di pandang sebagai aterogenik.
Faktor-faktor tambahan yang dianggap memainkan peranan dalam aterosklerosis termasuk tekanan ,darah tinggi, merokok, obesitas, kurang gerak badan, dan minum air lunak yang berlawanan dengan air sadah. Peninggian asam lemak bebas plasma juga akan meningkatkan sekresi VLDL oleh hati, yang mengikutsertakan pengeluaran triasilgliserol dan kolesterol ekstra ke dalam sirkulasi. Faktor-faktor yang menyebabkan kadar yang lebih ke dalam sirkulasi. Faktor-faktor yang menyebabkan kadar yang lebih tinggi atau berfluktuasi dari asam lemak bebas termasuk stress emosional, nikotin dari rokok, kopi, makan jarang tetapi banyak. Wanita premenopause kelihatan terlindung dari banyak faktor yang merugikan ini, mungkin karena mereka memiliki konsentrasi HDL yang lebih tinggi daripada laki-laki.

Contoh Klinik
? Kasus Hiperkolesterolemia
Seorang laki-laki umur 36 tahun ditemukan mempunyai hiperkolesterolemia. Penilaian diet menunjukkan bahwa ia makan kurang lebih 1,6 mmol (600 mg)/hari kolesterol, dan bahwa kadar kolesterol plasma darahnya pada dua peristiwa terpisah kurang lebih 8,5 mmol/L. Analisis ultrasentrifus mengungkapkan bahwa kenaikan kolesterol terdapat pada LDL plasma. Ia diobati dengan suatu rumus diet sintetik. bebas kolesterol untuk 3 bulan, namun kadar kolesterol plasma puasa menurun hanya sampai 7,7 mmol/L. Selanjutnya ia diobati dengan kolestipol hidrokhlorid, suatu resin pengikat asam empedu. Resin ini tidak diabsorpsi dan tinggal dalarn rongga usus. Di sini ia mengikat asam-asam empedu, menyebabkan ekskresi asam-asam tersebut dalam feses meningkat. Pengobatan dengan obat berhasil menurunkan kadar kolesterol plasma puasa sampai kisaran 5,8 sampai 6,4 mmol/L, suatu nilai yang dipandang dapat diterima untuk penderita ini.

? Diskusi Kasus
Absorpsi kolesterol kolesterol diabsorpsi dari diet. Kebanyakan kita mendapatkan masukan kolesterol diet 1,3 sampai 2,1 mmol/hari (500 sampai 800 mg) dan mengabsorpsi 0,8 sampai 1,0 mmol/hari (300 sampai 400 mg). Setiap, kolesterol diet yang terdapat sebagai ester dihidrolisis menjadi sterol bebas lewat kerja esterase kolesterol, suatu enzim pencernaan berasal dari pankreas. Hidrolisis berlangsung di dalam atau pada permukaan misel yang terbentuk lewat campuran asam empedu terkonjugasi, lesitin dan kolesterol yang terdapat dalam empedu. Kolesterol dipindahkan dari misel ke set mukosa usus secara difusi pasif. Kebanyakan absorpsi berlangsung dalam ileum, Segera sesudah masuk sel mukosa, kebanyakan kolesterol diesterkan dan dilepaskan ke dalam limfa dalam kilomikron. Lipoprotein ini masuk ke aliran darah dan kebanyakan trigliseridnya yang ada dihidrolisis lewat kerja lipase. Ester kolesterol tetap berada dalam partikel yang masih ada, yang disebut sisa kilomikron, yang diambil oleh hati. Proses absorpsi dapat berlanjut untuk 8 sampai 10 jam sesudah masuknya makanan berlemak.
Sintesis kolesterol untuk penderita ini betul-betul beralasan untuk mempunyai kolesterol dalam plasma darahnya, dan untuk hal ini, pada semua jaringan, meskipun kenyataannya ia berada dalam diet bebas kolesterol untuk periode yang lama. Diet bukan satu-satunya sumber kolesterol untuk manusia. Sebetulnya kebanyakan kolesterol yang ada dalam tubuh disintesis dalam tubuh sendiri, tidak berasal dari diet. Substrat untuk sintesis kolesterol adalah asetil KoA. Senyawa-antara metabolik ini diproduksi dari katabolisme karbohidrat, asam lemak, dan banyak asam amino. Sehingga hampir setiap makanan yang dimakan manusia akan menyediakan penyusun penting untuk sintesis kolesterol. Memang benar bahwa sintesis kolesterol menurun bila diet mengandung jumlah cukup sterol ini. Hal ini terjadi oleh karena jalur biosintetik dalam hati dihambat bila persediaan kolesterol ke hati mencukupi. Hambatan terjadi oleh karena produksi HMG KoA reduktase, enzim pembatas-laju dalarn jalur sintetik kolesterol kurang. Bukti baru-baru ini mengarahkan bahwa modifikasi kovalen enzim lewat fosforilasi juga mungkin terlibat dalam pengaturan umpan balik terhadap aktivitas HMGKoA reduktase. Tetapi sintesis kolesterol cukup banyak terjadi, sekalipun bila diet mengandung kolesterol dan diperkirakan bahwa lebih dari 50% kolesterol plasma dicukupi dari biosintesis meskipun bila diet tinggi kolesterol. Apabila diet bebas kolesterol, biosintesis berlangsung maksimal. Tetapi jumlah yang dapat disintesis tidak dapat mengadakan kompensasi sepenuhnya terhadap apa yang diperoleh dari diet. Sehingga, seperti yang dituliskan dalam kasus ini, orang akan mengharapkan penurunan kadar kolesterol plasma bila penderita diberi diet bebas-kolesterol. Penurunan dianggap terlalu kecil untuk merupakan nilai terapetik yang cukup bagi penderita ini.
Ekskresi kolesterol Dari sudut kuantitatif, jalan utama metabolisme kolesterol adalah perubahannya menjadi asam empedu. Sekitar 0,8 mmol/hari asam empedu dilepaskan ke dalam feses. Jumlah ini setia hari diganti, sebab tubuh diarahkan untuk mempertahankan jumlah kumpulan asam empedu yang konstan antara 15 dan 30 g. Penggantia asam empedu dilakukan dengan sintesis dari kolesterol dalam hati. Pemberian resin pengikat-asam empedu menurunkan reabsorpsi asa empedu dari usus dan dengan demikian meningkatkan pengeluaran asam empedu dalam feses. Untuk mengadakan imbangan terhada pengeluaran yang lebih besar, lebih banyak kolesterol harus diubah menjadi asam empedu dalam hati. Bila masukan kolesterol diet terbatas sampai peringkat sedang sekitar 0,8 mmol/ hari atau kurang, banyak kolesterol yang diperlukan untuk sintesis asam empedu harus disediakan dari dalam tubuh sendiri. Kemampuan hati untuk mensintesis kolesterol terbatas, dan beberapa kolesterol ekstra yang diperlukan untuk sintesis asam empedu harus disediakan dari apa yang biasanya akan masuk ke dalarn plasma dan jaringan. Selanjutnya dikembangkan keseimbangan baru, kolesterol disediakan dengan laju yang akan mencukupi kebutuhan sintesis asam empedu. Tetapi, keseimbangan kadar kolesterol plasma yang dicapai dalarn keadaan seimbang baru sering kurang dibanding kadar sebelum pemberian resin pengikat-asam empedu. Hal ini dianggap menguntungkan.
Reseptor lipoprotein hepatik Telah dilaporkan bahwa dalam membran hepatosit terdapat dua tipe reseptor lipoprotein. Satu mengikat apoprotein E dan merupakan reseptor untuk sisa kilomikron. Ini merupakan mekanisme untuk kolesterol diet disediakan, untuk hati terutama dalam bentuk ester kolesterol. Ini juga merupakan proses yang memperantarai hambatan umpan balik sintesis kolesterol dalam hati. Reseptor hepatik kedua mengenali apoprotein B dan mengikat LDL. Reseptor ini mungkin memperantarai pengambilan LDL oleh hati. Pada percobaan dengan anjing, pemberian kolestipol hidrokhlorid mengakibatkan peningkatan aktivitas pengikatan LDL hati tiga kali lipat dan peningkatan dalam laju pengeluaran LDL dari plasma dua kali lipat. Penurunan ini memberi kesan bahwa reseptor LDL hati peka terhadap pengaturan metabolik dan bahwa sebagian kerja resin pengikat asam empedu terhadap penurtman kolesterol plasma berlangsung lewat peningkatan pengeluaran LDL oleh hati.

BAB IV
PENUTUP

4. 1. KESIMPULAN
? Kolesterol tersebar luas dalam semua sel tubuh, tetapi khususnya dalam jaringan saraf. merupakan salah satu golongan dari senyawa bahan alam yaitu steroid. Kolesterol adalah senyawa induk steroid yang disintesis dalam tubuh. Kolesterol terdapat dalam lemak hewan tetpi juga pada lemak tumbuh – tumbuhan.
? Pada metabolisme kolesterol, kolesterol mengadakan umpan balik untuk menghambat enzim yang mengkonversi ? - hidroksi - ? - metalglutaril – KoA menjadi asam mevalonat. Jadi, bila intake kolesterol makanan tinggi,
sintesis kolesterol dalam hati menurun, sebaliknya. Ketika Kolesterol yang masuk sitoplasma sel juga menghambat sintesis reseptor LDL dan biosintesis kolesterol baru dari perkursornya. Efek ini, ditambah pembuangan kolesterol yang berlebihan dari sel oleh HDL, memberikan dasar umpan – balik untuk mempertahankan kolesterol intrasel pada tingkat yang konstan.
? Korelasi antara kadar kolesterol dengan jantung koroner dan aterosklerosis. Dapat dilihat pada parameter – parameter antara lain konsentrasi VLDL (terutama triasilgliserol) yang meninggi dengan konsentrasi normal LDL ( D = 1,019 – 1, 0,63) yang mengandung terutama kolesterol, LDL (kolesterol) meninggi dengan VLDL (triasilgliserol) normal, peninggian kedua fraksi lipoprotein (kolesterol + triasilgliserol). Kedua parameter tersebut yang biasa ditemukan pada aterosklerosis, dan ketetapan ratio kolesterol HDL dan LDL dimana jika nilai HDL rendah dan nilai LDL tinggi penyebab jantung koroner.
? Dalam kasus hiperkolesterolemia terdapat kenaikan kolesterol pada LDL plasma. Sehingga harus diobati dengan sutau rumus diet sintetik bebas kolesterol untuk 3 bulan dan selanjutnya diobati dengan kolestipol hidrokhlorid, suatu resin pengikat asam empedu.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Sjamsul Arifin. 1986. Materi Pokok Kimia Organik Bahan Alam. Penerbit Karunika. Jakarta

Ganong, William. F, 1983. Fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiology). Terjemahan Adji Dharma. Edisi ke 10. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta

Mayes, A. Peter, dkk. 1985. Biokimia Harper (Harper’s Review of Biochemistry). Terjemahan Dr. Iyan Darmawan. Edisi ke 20. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta

Montgomery, Rex, dkk. 1993. Biokimia Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus (terjemahan Prof. Dr. M. Ismadi). Jilid 2. Gajah mada University Press. Yogyakarta

Page, S. David, 1989. Pinsip – Prinsip Biokimia (terjemahan Drs. R. Soedoro). Edisi ke 2. Erlangga. Jakrata

www. google. com search : Profil Plasma Hormon Testoteron dan Luteinizing Hormon pada Rusa Sambar Jantan Muda (Cervus unicolor)

Tidak ada komentar: