Paradigma "Instant Generation"
SEKILAS, kalimat instant generation jarang sekali terdengar dari kalangan masyarakat. Namun, kebanyakan orang apalagi bagi generasi muda saat ini sangatlah akrab dengan gaya hidup tersebut. Mereka cenderung berfikir dan bertindak secara instan tanpa mengenal adanya proses‑proses yang berawal dari nol. 'Cepat' serta 'mudah didapat' adalah dua kata kunci yang sering dicari oleh masyarakat kini. Tak dipungkiri tekhnologi dan makanan cepat saji merupakan hal yang digandrungi oleh masyarakat modern.
Di era globalisasi saat ini, paradigma tentang instant generation telah tertanamkan pada anak‑anak sejak dini. Mulai dari sekolah hingga ke lingkungan masyarakat telah banyak terpengaruh oleh paradigma tersebut. Khususnya di sekitar lingkungan sekolah, dengan berbagai kenikmatan yang ditawarkan untuk siswa‑siswi, mereka seharusnya lebih bisa memilih yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri.
"Saya tidak setuju. Menurut saya, dalam dunia pendidikan kita harus melewati beberapa tahapan dan proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan," ujar Pramono selaku Wakil Kepala SMA Stella Duce 1 Yogyakarta di bidang kesiswaan ketika ditanyai seputar pendapatnya mengenai proses secara instan tersebut.
Menurutnya, proses tersebut akan berdampak hilangnya proses‑proses yang akan mematangkan diri pribadi seseorang serta tidak mampu menghadapi berbagai situasi berat di masa mendatang.
Tidak jauh juga dari pandangan siswi‑siswi SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Rata‑rata, mereka sependapat dengan Bapak Pramono. Sebagai contoh pendapat Sheila yang mengatakan bahwa segala hal yang serba instan tidak selalu menguntungkan untuk ke depannya. Bagi dia, pilihan itu kembali pada pribadi masing‑masing.
Lain halnya dengan pendapat Benny, salah satu siswa SMA Kolese De Britto. Ia mengatakan bahwa selama proses instan membawa manfaat bagi penggunanya, "Ya itu sah‑sah saja bagi mereka. Tetapi kalau hal tersebut sudah menghilangkan proses‑proses dalam kehidupan maka tidak baik bagi individu tersebut."
Namun tidak selamanya proses instan tersebut selalu memiliki sisi negatif saja. Tetapi, di sisi lain juga dapat membawa dampak positif, seperti halnya yang dirasakan oleh salah satu siswi SMA Stella Duce 1 yang memiliki banyak kegiatan. "Sejujurnya, saya tidak begitu setuju dengan adanya instant generation yang sekarang lagi membomming di kalangan remaja. Walaupun seperti itu, saya tetap menjalankan gaya hidup instan karena keterbatasan waktu yang saya miliki," kata Vina, siswi yang sering memenangkan kontes vokal.
Kecenderungan kaum muda saat ini lebih memilih proses yang cepat dan lebih singkat daripada melalui berbagai proses yang seharusnya dijalankan untuk pencapaian sesuatu. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Contoh faktor eksternal seperti kegiatan‑kegiatan yang menyita banyak waktu dan acara‑acara yang tidak terlalu penting untuk dilakukan tetapi lebih dipilih untuk dilakukan. Selain itu, faktor internalnya antara lain, rasa malas, mudah putus asa dan terlalu menyepelekan sesuatu. Seperti biasanya, sebagai remaja masih banyak yang berfikir untuk memilih jalan tidak panjang yang melewati beberapa proses yang melelahkan.
Hal ini sering kita lihat baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Satu contoh kongkret yang terlihat jelas adalah mencontek saat pelajaran. Contoh ini sudah mendarah daging bagi kalangan muda. Siapa sih kalangan muda sekarang khususnya remaja yang tidak pernah menyontek? Dari hal kecil tersebut sudah tertanam benih‑benih pada generasi muda untuk menjalani hidup secara instan. Mungkin cara instan tersebut sangat menguntungkan bagi orang‑orang yang menerapkannya namun selanjutnya akan berdampak buruk yang akan dirasakan di kemudian hari.
Sekarang ini yang menjadi pedoman setiap orang adalah bagaimana mendapatkan atau memperoleh apa yang diinginkan tanpa harus melelahkan tubuh. Segala aktivitas yang dikerjakan semata‑mata hanyalah sebagai formalitas belaka. Mulai dari mengolah makanan hingga ke pemerintahan. Anak‑anak sekarang juga sudah terpengaruh dikarenakan kurangnya kasih sayang orang tua, pergaulan sampai perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Kemajuan teknologi adalah hal yang wajar dan merupakan suatu keharusan. Namun dalam kenyataannya, ada beberapa teknologi yang dapat menghilangkan nilai‑nilai kehidupan sehingga orang‑orang tidak bisa menghargai arti sebuah perjuangan. Ini semua mengakibatkan manusia lebih enggan untuk berfikir karena segala sesuatunya dapat diperoleh secara instan.
Akibatnya, hal‑hal tersebut membentuk generasi manja yang bermental "tempe" atau daya juang yang lemah. Orang‑orang cenderung lebih mudah putus asa dan tidak mau berusaha mencoba kembali jika menghadapi situasi yang berat. Mereka juga tidak bisa memaknai, mengerti dan menghargai arti berproses. Mereka lebih suka berkhayal dan bermimpi cepat sukses dan kaya. Daya kreatif dan inovatif dari masing‑masing individu ikut menurun.
Jika semua itu dibiarkan tumbuh dalam diri generasi muda maka tidak dipungkiri negara kita akan semakin terpuruk dengan masalah‑masalah yang akan timbul dan tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Korupsi yang merajalela di Indonesia terjadi dapat disebabkan oleh prinsip instan tersebut. Salah satu upaya yang dapat diberikan oleh sekolah menengah ke atas seperti SMA Stella Duce 1 Yogyakarta adalah kegiatan homestay. Di mana anak‑anak belajar dan mengerti proses dalam hidup. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkan daya juang untuk menghadapi situasi dan kondisi seperti saat ini. Kemandirian juga dilatih dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan ini menuntut anak‑anak untuk dapat mengerti, memaknai dan menghayati arti sebuah proses agar terwujudnya generasi pembaharu yang memiliki kemampuan, baik kreasi maupun inovasi‑inovasi demi kemajuan Negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar