Jumat, 10 April 2009

Penyakit Defisiensi

Waspadai Penyakit Defisiensi KKP

NAMA internasional dari penyakit kurang kalori dan protein ini adalah calorie protein malnutirition (CPM) dan kemudian diganti dengan protein energy malnutrition (PEM).
Salah satu gejala KKP ini adalah hepatomegali, yaitu hepar yang terlihat oleh ibu-ibu sebagai pembuncitan perut. Anak yang menderita penyakit ini sering pula terkena infestasi cacing dan mengeluarkan cacing dari anusnya. Tetapi banyak anggapan mengatakan bahwa anak yang perut buncit adalah anak yang cacingan. Setelah disosialisasikan bahwa anak yang perutnya buncit adalah kekurangan kalori dan protein, para ibu dan masyarakat pun menerima bahwa anak tersebut manderita penyakit KKP dan bukan cacingan.
Untuk menanggulangi kekurangan konsumsi yang biasanya disebabkan oleh daya beli keluarga rendah, perlu diusahakan peningkatan penghasilan keluarga. Serta dengan penyediaan makanan formula protein dan energi yang tinggi unuk anak-anak yang disapih. Pendidikan dan penerangan maupun penyuluhan gizi harus merupakan salah satu komponen untuk mencegah KKP skala mikro ini. Dalam pendidikan gizi dan pemeliharaan kesehatan yaitu :
_ pemeriksaan pada waktu-waktu tertentu misalnya di BKIA, puskesmas dan posyandu.
- melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya tinggi.
memperbaiki higiene lingkungan dengan menyediakan air minum, tempat membuang air besar (WC).

- mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat yang sudah disediakan, memasak air minum, memakai sandal atau sepatu untuk menghindari infeksi dari parasit, membersihkan rumah dan memasang jendela-jendela untuk mendapat udara segar.
Pengetahuan ibu sangat sangat mempengaruhi kesehatan balita, karena balita merupakan kelompok yang rawan gizi. Banyak balita mengalami KKP karena penyediaan bahan pangan yang tidak seimbang sehari-hari, dan yang berperan dalam hal itu adalah para ibu.
Mari bersama kita tingkatkan kesehatan masyarakat, karena penyakit ada karena kita tidak memperhatikan kesehatan kita sendiri, lingkungan serta kebutuhan akan zat-zat gizi bagi tubuh kita.
Recky

Mahasiswa POLTEQ

< NAMA internasional dari penyakit kurang kalori dan protein ini adalah calorie protein malnutirition (CPM) dan kemudian diganti dengan protein energy malnutrition (PEM).

Salah satu gejala KKP ini adalah hepatomegali, yaitu hepar yang terlihat oleh ibu-ibu sebagai pembuncitan perut. Anak yang menderita penyakit ini sering pula terkena infestasi cacing dan mengeluarkan cacing dari anusnya. Tetapi banyak anggapan mengatakan bahwa anak yang perut buncit adalah anak yang cacingan. Setelah disosialisasikan bahwa anak yang perutnya buncit adalah kekurangan kalori dan protein, para ibu dan masyarakat pun menerima bahwa anak tersebut manderita penyakit KKP dan bukan cacingan.

Untuk menanggulangi kekurangan konsumsi yang biasanya disebabkan oleh daya beli keluarga rendah, perlu diusahakan peningkatan penghasilan keluarga. Serta dengan penyediaan makanan formula protein dan energi yang tinggi unuk anak-anak yang disapih. Pendidikan dan penerangan maupun penyuluhan gizi harus merupakan salah satu komponen untuk mencegah KKP skala mikro ini. Dalam pendidikan gizi dan pemeliharaan kesehatan yaitu :

- pemeriksaan pada waktu-waktu tertentu misalnya di BKIA, puskesmas dan posyandu.

- melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya tinggi.

- memperbaiki higiene lingkungan dengan menyediakan air minum, tempat membuang air besar (WC).

- mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat yang sudah disediakan, memasak air minum, memakai sandal atau sepatu untuk menghindari infeksi dari parasit, membersihkan rumah dan memasang jendela-jendela untuk mendapat udara segar.

Pengetahuan ibu sangat sangat mempengaruhi kesehatan balita, karena balita merupakan kelompok yang rawan gizi. Banyak balita mengalami KKP karena penyediaan bahan pangan yang tidak seimbang sehari-hari, dan yang berperan dalam hal itu adalah para ibu.

Mari bersama kita tingkatkan kesehatan masyarakat, karena penyakit ada karena kita tidak memperhatikan kesehatan kita sendiri, lingkungan serta kebutuhan akan zat-zat gizi bagi tubuh kita.

Tidak ada komentar: