Alat Lubang Resapan Biopori Didaftarkan Paten
Institut Pertanian Bogor saat ini menempuh proses mendapatkan paten untuk peralatan lubang resapan biopori yang diciptakan Kamir R Brata, pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, pada perguruan tinggi tersebut.
Namun, Kamir tidak menghendaki proses itu nantinya justru menghambat masyarakat untuk memproduksi sendiri peralatan tersebut.
”Sejak awal menemukan peralatan lubang resapan biopori beberapa tahun lalu, saya memang tidak menghendaki patennya. Tetapi, sekarang institusi saya ingin mematenkan alat ini dengan maksud agar masyarakat mengetahui dasar pemikiran yang dilahirkan akademisi,” kata Kamir, Rabu (30/1) di Bogor.
Kamir menjelaskan, lubang resapan biopori di dalam tanah itu menuntut perlakuan dengan pengisian sampah organik ke dalamnya. Sampah-sampah organik itu nantinya akan diuraikan mikroorganisme di dalam tanah.
Organisme itu pun akan membuka pori-pori tanah yang bermanfaat untuk menyerap air.
15 manfaat
Dia mengatakan, sedikitnya ada 15 manfaat dari pembuatan lubang resapan biopori dengan diameter 10-20 sentimeter dan kedalaman 100 sentimeter itu.
Manfaat tersebut meliputi manfaat penampungan sampah organik, menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, menyuburkan tanah, mendukung penghijauan, serta mengurangi emisi gas rumah kaca akibat pelapukan bahan organik.
Kemudian dari aspek sanitasi, untuk menjaga kebersihan akibat daun yang dipangkas atau berguguran, mencegah polusi udara, berfungsi meresapkan air lebih optimal.
Jika biopori tersebut dilakukan secara masif oleh masyarakat, lubang resapan biopori juga akan mampu mencegah banjir dan genangan.
Manfaat lain biopori adalah meningkatkan cadangan air dalam tanah, mencegah keamblasan tanah, menghambat intrusi air laut, dan mengurangi pencemaran air.
”Alat pelubang resapan biopori ini terlalu sederhana sehingga sering dianggap tidak menarik. Tetapi, biopori memang bertujuan untuk menyederhanakan ilmu-ilmu yang terkait tanah,” kata Kamir.
Baik ilmuwan maupun masyarakat awam, menurut Kamir, saat ini mengabaikan adanya kehidupan di dalam tanah yang suatu saat pasti berdampak pada kerusakan tanah.
Keanekaragaman hayati di dalam tanah juga jarang diteliti sehingga kelestariannya tidak pernah dijaga. (NAW)
Sumber: http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.31.02401685&channel=2&mn=4&idx=4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar