Dua Abad Tersaput Misteri
Ratusan tahun virus dengue menteror. Belum ada vaksin yang berjaya.
Demam dengue jelas bukan penyakit baru. Entah kebetulan entah tidak, gejala-gejala penyakit ini pertama kali ditemukan di Batavia, Indonesia, dan Kairo, Mesir, pada 1779. Ya, dua abad lebih sudah berlalu, tapi pengetahuan manusia seputar penyakit ini bisa dibilang baru seujung kuku.
Baru pada 1944, virus penyebab demam dengue teridentifikasi oleh ilmuwan Amerika Serikat kelahiran Polandia, Albert Sabin. Dia berhasil mengisolasi virus demam dengue dan memasukkannya ke keluarga virus Flavivirdae—keluarga virus yang suka menumpang pada manusia, hewan primata, atau nyamuk. Sampai sekarang, tercatat lebih dari 70 virus yang tergolong dalam keluarga besar ini, termasuk virus yellow fever dan virus Encephalitis Jepang.
Dengue, nama virus penyebab demam berdarah, hanya bisa ditularkan ke manusia lewat nyamuk kebun Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Tanpa bantuan nyamuk, virus dengue cuma macan kertas. Nyamuk mendapatkan virus dengue dari darah pasien demam berdarah. Jadi, jika tak ada penderita demam berdarah, seratus gigitan nyamuk kebun pun tak berbahaya.
Peningkatan kasus demam dengue terjadi sejak 1945. Diduga lonjakan ini akibat derasnya urbanisasi. Dari waktu ke waktu, virus ini terus berkembang lebih ganas menjadi demam berdarah dengue atau dengue hemorrhagic fever dan dengue shock syndrome. Jenis ganas ini pertama kali menjangkiti anak-anak di kawasan Asia Tenggara.
Saat ini, pakar virus membedakan virus dengue dalam empat serotipe, masing-masing DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Bentuk keempat tipe ini sama, tapi antigennya berbeda. Sejarahnya, DEN-2 banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara, sedangkan DEN-3 ditemukan di kawasan Karibia dan DEN-1 di kepulauan Pasifik.
Dari aspek keganasannya, penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, DEN-2 memicu penyakit yang lebih ganas. Ini misalnya terlihat dari tingkat kebocoran plasma darah pada penderitanya. Implikasi temuan ini, jika DEN-2 mewabah di satu tempat, pemerintah di sana harus lebih waspada. Sistem deteksi dini harus terus siaga. Stok cairan infus pun harus lebih banyak.
Penelitian WHO juga menemukan, sekitar 80 persen pasien demam berdarah menunjukkan peningkatan kadar enzim AST dan ALT—enzim dalam liver yang bisa menjadi indikasi awal seseorang terjangkit dengue. Dengan menguji kadar enzim ini, virus tipe DEN-3 dan DEN-4 diketahui memicu kenaikan enzim yang lebih tinggi. Ini menjadi peringatan tersendiri. Kedua tipe virus ini punya peluang lebih besar untuk berkomplikasi dengan hepatitis. Jika kasusnya sampai tingkat shock, si pasien berpeluang mengalami kegagalan liver. Karena itu, pasien memerlukan pertolongan lebih awal dan pemberian obat seketat mungkin.
Khusus tipe DEN-4 biasanya lebih suka menginfeksi pasien berusia lanjut. Ada dugaan, pasien tua terbebas dari infeksi DEN-4 pada wabah sebelumnya karena tipe ini memang ditemukan lebih anyar. Karena itu, jika virus tipe DEN-4 dominan, orang dewasa sebaiknya lebih waspada.
Virus tipe DEN-1 tidak memiliki karakter khusus. Sejauh ini, belum diketahui dengan penyakit apa virus ini bisa berkomplikasi. Yang diketahui, pasien dengan virus DEN-1 lebih banyak mengalami shock ketimbang pasien tipe virus lainnya. Dari sisi komplikasi, DEN-1 tampaknya menjadi serotipe yang paling ringan. Tapi, jika tak tertolong, peluang pasien mengalami shock tetap tinggi.
Agus Syahrurahman, pakar virus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa gabungan tipe virus ini bisa ditemukan di satu daerah terjangkit pada waktu bersamaan. Yang membedakan satu musim demam dengan musim demam lainnya, menurut Agus, biasanya hanya soal dominasi virus tertentu. Penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Pertamina (1999-2000), misalnya, menemukan tiga tipe virus secara bersamaan, yaitu DEN-1, DEN-2, dan DEN-3.
Tipe virus apa pun yang menginfeksi, menurut Agus, jejak kekebalan sekaligus kerentanannya hampir serupa. Sekali terkena satu tipe virus dengue, si pasien akan punya kekebalan terhadap virus yang sama selama lima tahun. Masalahnya, setelah lewat lima tahun, kekebalan itu berkurang. Lebih runyam, tubuh jadi lebih peka dan rentan terhadap serangan tipe virus lainnya. "Kalau sampai terkena dengue untuk kedua kalinya, risikonya lebih berat," ujar Agus.
Bukan hanya perkenalan manusia dengan virus dengue yang perlu waktu lama. Perkembangan virus ini pun tak bisa diimbangi kemampuan manusia untuk menemukan penangkalnya. Upaya membuat vaksin demam berdarah dimulai pada 1970-an. Tapi perkembangannya sangat tersendat-sendat. Ini antara lain terjadi karena, berbeda dengan yellow fever, demam dengue tak disebabkan oleh virus tunggal. Tugas berat para ilmuwan adalah menemukan satu jenis vaksin yang berlaku untuk menangkal empat tipe virus berbeda ini.
Keganasan virus dengue juga diperkuat oleh kemampuan cepatnya bermutasi. Dengan kemampuan ini, virus yang masuk tubuh begitu keluar dipastikan sudah mengalami mutasi. Akibatnya, para ahli kesulitan membuat vaksin karena tiap saat virus itu sudah berubah.
Di luar segala kesulitan itu, sejumlah prototipe vaksin dengue sebenarnya hampir selesai menjalani uji klinis. Ilmuwan di Universitas Mahidol, Bangkok, Thailand, misalnya, sedang mengembangkan vaksin khusus. Memang masih dalam taraf uji coba, tapi keandalan vaksin ini sudah mencapai 90 persen.
Uji coba vaksin juga sedang berlangsung di Walter Reed Army Institute of Research, Silver Spring, Maryland, Amerika. Lisensi vaksin Walter Reed kini dipegang GlaxoSmithKline Biologicals, Rixensart, Belgia. Dalam waktu dekat, vaksin ini akan diuji coba pada anak-anak.
Kalaupun vaksin dapat dibuat, masalah lain menghadang, yaitu bagaimana menguji vaksin itu pada manusia. Mencoba pada hewan? Ini pun tidak mudah. Sejauh ini, belum ada jenis hewan yang benar-benar pas untuk tes vaksin dengue. Tikus, yang paling sering menjadi obyek penelitian, misalnya, memang bisa terinfeksi virus dengue. Tapi tikus ternyata kebal dan tak bisa sakit dengan virus ini.
Begitu pula percobaan pada monyet, spesies yang secara fisiologis paling mi-rip dengan manusia. Monyet memang memproduksi antibodi pelawan virus dengue. Sesekali monyet pun terjangkit demam. Tapi monyet tak pernah mengalami perdarahan seperti terjadi pada manusia.
Hambatan-hambatan itulah yang membuat ilmuwan belum berani memastikan kapan vaksin demam berdarah bisa dipakai secara massal. "Harapannya sih bisa segera," ujar Agus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar